Sedekah dari masa sebelum muncul islam

Kata sedekah didalam bahasa Arab kemungkinan diserap dari bahasa ibrani yaitu zedaka yang dimaknai sebagai keadilan dan kebajikan. Praktik sedekah sebelum datangnya agama-agama samawi seperti Islam, Yahudi, dan Kristen, lazimnya merujuk kepada praktik persembahan kepada dewa-dewa agar mendapatkan balasan yang setimpal dengan pengorbanan yang telah diberikan.

Masyarakat Arab di kota Mekah sebelum datangnya Islam dikenal sebagai masyarakat yang gemar melakukan berbagai tindakan dan kegiatan kedermawanan. Mereka, kaum Quraisy, memiliki reputasi dan martabat yang tinggi karena keramahannya yang senantiasa ditunjukkan terutama pada musim-musim haji. Mereka adalah masyarakat yang piawai memuliakan para tamu yang datang ke Mekah dari berbagai penjuru jazirah Arab baik untuk mengunjungi Ka’bah atau dalam perjalanan dagang.

Di kalangan pembesar kabilah, mereka saling berkompetisi untuk menunjukkan keramahtamahan mereka. Unta, selain digunakan sebagai kendaraan juga menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran.Hewan ini selalu hadir menjadi menu utama untuk menjamu para tamu.sebagai contoh persaiangan, Seorang pemimpin kabilah mengumpulkan klan(bani) mereka untuk berpesta dengan jamuan daging unta. Melihat hal ini, pemimpin kabilah lain akan menyainginya, dengan menyembelih unta juga lalu dagingnya didistribusikan kepada klan(bani)nya.

Persaingan seperti ini berlanjut sehingga banyak unta yang disembelih hanya untuk menunjukkan kemurahan hati dan kebesaran sang pemimpin kabilah tersebut, meskipun daging unta yang tersedia melebihi daya konsumsi penduduk yang ada. Pemimpin kabilah yang kehabisan untanya atau menyerah dalam persaingan seperti ini harus bersiap menanggung rasa malu.

Salah satu pemimpin kabilah yang namanya sudah melegenda karena sifat kedermawanannya pada masa jahiliyah ini adalah Hatim Al-Tha’i. Hatim sang dermawan ini, di negara seperti India dan Iran, kemasyhurannya hampir sama dengan Aladdin, Sinbad atau Abu Nuwas. Namanya juga tetulis dengan jelas dalam salah satu bagian dari kisah Seribu Satu Malam.

Suatu hari, kafilah dagang Al-Hakam bin Abi al-Ash dalam perjalanannya dari Hijaz menuju Hira melewati perkampungan Tha’i dan meminta perlindungan dari Hatim. Hatim pun menyetujuinya dan selayaknya biasa sebagai bentuk keramahtamahannya memberikan jamuan dengan menyembelih beberapa ekor unta. Hatim selanjutnya menyuruh seluruh kaumnya untuk memberikan perlindungan kepada Al-Hakam, kemudian menantang Banu Lam (salah satu keturunan dari Bani Tha’i). Keduanya pun akhirnya sepakat untuk bersaing dalam memberikan jamuan yang akan diselenggarakan di pasar Hira. Pihak Banu Lam mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk menjawab tantangan ini. Hatim mengajak seluruh keluarganya, kemenakan-kemenakannya dan sekutunya sehingga Banu Lam pun dengan terpaksa harus mengakui kekuatan Hatim dan menerima kekalahan mereka sebelum kompetisi perjamuan itu dimulai. Dengan pengakuan dari Banu Lam, maka keunggulan atau harga diri Hatim sebagai pemimpin kabilah tetap terjaga dengan baik.

Demikian kira-kira bentuk praktik kedermawanan di era jahiliyah.Pada satu sisi berhubungan dengan pengorbanan disi yang lain berkaitan dengan masalah kepemimpinan. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini menggambarkan bagaimana buruknya solidaritas sosial masyarakat Mekah. Mereka fanatik buta terhadap suku/kabilah masing-masing dan persaingan yang tidak sehat antar pemimpin kabilah dalam kekayaan dan kedermawanan yang mengakibatkan terkikis rasa kepedulian sosial.Meskipun daging unta itu didistribusikan kepada para budak dan sekutu mereka, hal itu juga tidak dilandasi oleh semangat tolong-menolong melainkan dalam rangka melanggengkan status quo hubungan majikan-budak di antara mereka.

Kedermawanan pada masa Jahiliyah merupakan simbol kesuksesan dan kebesaran. Setiap orang berusaha mencapai posisi sebagaimana yang telah dicapai oleh Hatim al-Tha’i dan pemimpin kabilah lainnya. Agar dihormati masyarakat di seluruh jazirah Arab dan lebih luas lagi. Seseorang mesti murah hati, memiliki keberanian, tepat janji, baik untuk persekutuan, perlindungan, jaminan maupun untuk tujuan lain. Dipuji karena berbagai kebaikan dalam hidup dan setelah meninggal dunia, menurut pandangan mereka adalah kehormatan dan keabadian yang memberikan makna hidup.

Itulah yang mereka cari sebagai makna kehidupan ini, bukan ridha di sisi Allah. Inilah yang menutup jiwa mereka dari seruan Muhammad SAW di kemudian hari yang mengajarkan tentang kefanaan hidup duniawi beserta kesuksesan hidup yang mereka idam-idamkan.

Dari gambaran tersebut, kita diperlihatkan bagaimana syariat Islam tentang kedermawanan tidak hadir dari ruang kosong. Nabi Muhammad SAW diutus untuk mempertahankan tradisi bersedekah yang dianggap sudah baik, sembari meluruskannya berdasarkan semangat ketauhidan semata-mata karena Allah SWT. Jika pada masa jahiliyah kedermawaan digunakan sebagai ajang keunggulan pribadi di tengah kaumnya, Islam meluruskannya dengan semangat tauhid dimana kedermawanan menjadi salah satu ibadah yang penting, bahkan merupakan inti dari ajaran Islam.

Kedermawanan didalam Islam mengandung dua sisi yang berkaitan yaitu membersihkan jiwa dan harta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menebarkan kasih sayang kepada sesama serta membangun masyarakat berbasis semangat kesetaraan dan keadilan sosial.

Lalu, bagaimana dengan sedekah kita? Mari kita renungkan bersama!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top