Sahabat Abdurrahman bin Auf, Pasar Madinah

AKHIR-akhir ini dimasa pandemi kita sering mendengar keluhan para pedagang, ketika hasil dagangannya tidak lagi mendapatkan untung. Terkadang, keuntungan besar yang diperoleh hilang dalam waktu singkat,sangat cepat bagaikan uap.

Sesungguhnya keadaan seperti ini pun pernah terjadi pada tahun-tahun pertama Rasulullah Muhammad SAW bersama penduduk Mekkah hijrah ke Madinah. Kala itu, perekonomian di Madinah dikuasai oleh kaum Yahudi.

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu Sahabat Rasulullah yang berhijrah ke Madinah mengikuti Rasul. Sebelum hijrah ke Madinah, nama Abdurrahman bin Auf sudah terkenal sebagai saudagar besar dan ternama di Mekkah. Rasulullah SAW memperkenalkan Sahabatnya Abdurrahman bin Auf kepada penduduk muslim di Madinah. Tak hanya itu, Rasulullah SAW juga mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan seorang saudagar dari kaum Anshar (penduduk asli Madinah) yang bernama Sa’ad Bin Rabiq. Saad Bin Rabbiq pun sangat bahagia karena orang paling mulia di bumi yang langsung merekomendasikannya untuk bersaudara dengan Abdurahman bin Auf.

Saad Bin Rabbiq mengeluarkan kalimat kira kira berbunyi seperti ini:

“Wahai saudaraku Abdurrahman bin Auf, demi Allah dan Rasulnya, apapun yang aku miliki saat ini akan ku hadiahkan untukmu setengah, biar aku memiliki setengahnya saja, silahkan engkau pilih yang mana hartaku yang engakau mau?”

Mendengar pernyataan itu Abdurrahman bin Auf tidak serta merta menerima, namun beliau dengan santun menjawab:

“Wahai saudaraku Saad bin Rabbiq, biarlah hartamu tetap menjadi hartamu. Semoga Allah senantiasa memberkahi seluruh harta yang engkau miliki. Aku hanya ingin engkau menunjukkan dan mengantarkan aku, di mana pasar atau pusat perdagangan di Kota Madinah ini?”

Sungguh muliaan akhlak Abdurahman bin Auf. Padahal ketika berhijrah bersama Rasulullah SAW,Abdurrahman tidak membawa harta bendanya bersamanya. Seluruh hartanya dia tinggalkan di Mekkah, demi agar bisa bergabung dengan penduduk Mekah lainnya yang hijrah menuju ke Madinah dipimpin Rasulullah SAW.

Mendengar pernyataan Abdurahman bin Auf, Saad Bin Rabbiq pun bergegas mengantarkan beliau ke pasar. Sesampainya di pasar sang saudagar Mekkah ini pun bertanya kepada saudaranya:

“Wahai saudaraku, pasar kepunyaan siapakah ini? kenapa begitu ramai pembelinya?”

Saad menjawab dengan lesu dan bermuka sedih.

“Ini pasar milik kaum Yahudi, mereka telah mengkavling-kavling tanah di sini lalu menyewakannya dengan harga tinggi ke pedagang yang ingin menempatinya”.

Abdurahman pun bertanya lagi,

“Lalu tanah milik siapakah yang ada di depannya ini? Kenapa tidak dimanfaatkan?”

Saad sontak menjawab,

“Ini tanah milikku wahai saudaraku, beberapa kali pedagang Yahudi ingin menguasainya, namun tidak kuizinkan”.

Dengan penuh semangat dan ide yang langsung terpikirkan Abdurahman bin Auf pun berkata,

“Alhamdulillah, kalau ini memang benar tanahmu Saad, maka aku akan membangun pasar di sini, tepat di depan pasarnya kaum Yahudi dan akan kita kavling-kavling juga. Kita akan kita berikan kepada pedagang muslim di sini tanpa sewa, kita akan menggunakan sistem bagi hasil. Kalau pedagang muslim sudah ada untung, baru mereka berkewajiban membagi hasilnya. Yakinlah engkau wahai saudaraku Saad, hanya dengan cara ini kita bisa mengalahkan cara berdagang kaum Yahudi”.

Di lain kesempatan, beberapa pedagang dari kaum Anshar menjumpai Rasulullah SAW dan mengeluhkan keadaan perniagaan di kota Madinah kala itu.

“Ya Rasulullah, kami ini pedagang, tapi keuntungan perdagangan kami kalah lebih banyak dari pada kaum Yahudi. Padahal kami telah menggunakan caramu berdagang, saat pembeli belanja 1 kilogram, kami berikan cukup satu kilo, kalau mereka belanja 1 meter, ya kami juga berikan mereka 1 meter. Tidak sedikit pun kami mengurangi jumlahnya, seperti cara berdagang yang Engkau anjurkan. Sementara pedagang Yahudi, mereka mengurangi jumlah timbangan dan takarannya, sehingga keuntungan yang didapatkan jauh lebih besar dari apa yang kami dapatkan ya Rasulullah”.

Rasulullah SAW menjawab: “jujur saja dalam berdagang seperti itu belum cukup wahai saudagar Anshar. Raihlah Ridha Allah dalam setiap perdaganganmu, maukah kalian aku ajarkan bagaimana cara meraih ridha Allah dalam berniaga?”

Sontak saja para pedagang madinah menjawab. “Tentu saja ya Rasulullah”.

Rasul pun bersabda. “Mulai hari ini, lebihkan sedikit dari apa saja yang mereka belanja dari kalian. Selain menjadi bagian dari sedekah mencari berkah dan Ridha Allah, cara ini akan menjadi daya tarik tersendiri pembeli di sini untuk belanja ke kedai-kedai dan toko-toko milik kaum muslimin”.

Sejak kehadiran Rasulullah dengan Muhajirinnya, Tidak membutuhkan waktu lama perdagangan Kota Madinah dikuasai oleh Kaum Muslimin. Perbincangan-perbincangan positif tentang belanja di kedai muslimin mulai merebak secara luas dari mulut ke mulut penduduk Madinah. Pembeli di kedai kedai kaum muslim semakin banyak. Beberapa tahun kemudian, pasar yang dimiliki kaum Yahudi yang sebelumnya ramai, telah berubah menjadi sepi. Lalu mereka bangkrut dan menjual semua lapak dagangannya di pasar itu kepada kaum muslimin.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top